Sabtu, 11 Juni 2016

HUBUNGAN EKONOMI KELUARGA DENGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A. Masalah Ekonomi Keluarga
Sebelum berbicara mengenai ekonomi keluarga maka akan penulis jelaskan tentang pengertian ekonomi.
1. Pengertian ekonomi


– Ekonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia baik secara individu maupun kelompok masyarakat (dapat berbentuk badan hukum maupun tidak serta dapat pula berbentuk penguasaan/ pemerintah) dalam memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan material maupun spiritual (jasmani dan rohani) dimana kebutuhan tersebut cenderung mengarah menjadi tidak terbatas, sedangkan sumber pemenuhan kebutuhan tersebut sangat terbatas.1
– Ekonomi adalah sesuatu yang membahas tentang kebutuhan-kebutuhan manusia dan sarana-prasarana pemenuhannya (ilmu yang membahas tentang produksi dan kualitasnya serta bagaimana menentukan dan memperbaiki sarana-prasarananya).2
– Ekonomi adalah ilmu yang pada dasarnya mempelajari tentang upaya manusia baik sebagai individu maupun masyarakat dalam rangka melakukan pilihan penggunaan sumber daya yang terbatas guna memenuhi kebutuhan (yang pada dasarnya bersifat tidak terbatas) akan barang dan jasa.3
– Ekonomi adalah ilmu yang membahas masalah manusia dan sistem sosial yang mengorganisasikan aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dasar (yaitu pangan, papan dan sandang) dan keinginan non material (seperti pendidikan, pengetahuan dan pemuasan spiritual).4
– Ekonomi adalah pengetahuan tentang peristiwa dan persoalan yang berkaitan dengan upaya manusia secara perseorangan (pribadi), kelompok (keluarga, suku bangsa, organisasi) dalam memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas yang dihadapkan pada sumber yang terbatas.5
Untuk menapak uraian lebih lanjut ada tiga macam definisi yang dipandang merupakan definisi-definisi terpenting, diantaranya menurut para ahli atau tokoh yaitu :
a). Adam Smith, berpendapat bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu kekayaan atau ilmu yang khusus mempelajari sarana-sarana kekayaan suatu bangsa dengan memusatkan perhatian secara khusus terhadap sebab-sebab material dari kemakmuran, seperti hasil-hasil industri, pertanian dan sebagainya.
b). Marshall berpendapat bahwa ekonomi adalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha individu dalam ikatan pekerjaan dalam kehidupannya sehari-hari. Ilmu ekonomi membahas bagian kehidupan manusia yang berhubungan dengan bagaimana ia memperoleh pendapat dan bagaimana pula ia mempergunakan pendapat itu.
c). Ruenez mendifinisikan bahwa ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menghadapi kebutuhan-kebutuhannya dengan sarana-sarananya yang terbatas yang mempunyai berbagai macam fungsi.6

2. Pengertian keluarga
Keluarga diartikan sebagai suatu masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Hubungan antara individu dengan kelompok disebut primari group. Kelompok yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat dan fungsi keluarga tidak hanya sebatas sebagai penerus keturunan. Namun masih banyak hal mengenai kepribadian yang dapat diruntut dari keluarga.
Dalam sebuah keluarga biasanya terdiri dari seorang individu (suami) dan individu lainnya (istri dan anak-anaknya) yang selalu menjaga rasa aman dan ketentraman ketika menghadapi segala rasa baik suka maupun duka dalam kehidupan dimana menjadikan keeratan dalam sebuah ikatan luhur hidup bersama.
Kewajiban keluarga sebagai kelompok pertama yang dikenal keluarga hendaknya :
a). Selalu menjaga dan memperhatikan cara pandang individu terhadap kebutuhan-kebutuhan pokoknya, baik itu bersifat organik maupun yang bersifat psikologis.
b). Mempersiapkan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan artinya keluargalah yang mempunyai tanggungjawab moral pada pendidikan anggota keluarga.
c). Membina individu kearah cita-cita dan menanamkan kebiasaan yang baik dan benar untuk mencapai cita-cita tersebut.
d). Sebagai modal dalam mesyarakat yang menjadi acuan baik untuk ditiru dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat.7
Adapun fungsi keluarga yang lain adalah berkembang biak mensosialisasikan atau mendidik anak, menolong, melindungi atau merawat orang tua/ jompo.8 Pendapat lain mengatakan fungsi keluarga meliputi pengaturan seksual, reproduksi, sosialisasi, pemeliharaan dan kontrol sosial.9
Jadi dapat disimpulkan bahwa ekonomi keluarga adalah suatu kajian tentang upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang bertanggungjawab atas kebutuhan dan kebahagiaan bagi kehidupannya (sekelompok komunitas dari masyarakatnya).
Bila fungsi keluarga dapat terlaksana dengan baik dalam kehidupan dan kemakmuran tercapai, maka kesejahteraan hidup kelurga akan terwujud. Adapun kemakmuran yang dicapai keluarga dibidang ekonomi dapat menaikkan tingkat kemampuan, memiliki sesuatu yang dihargai dalam kehidupan masyarakat dan melahirkan lapisan sosial yang mempunyai kedudukan tingkat/ atas. Dengan adanya perbedaan tingkatan atau lapisan sosial ekonomi yang terdapat disetiap keluarga mempunyai gaya berbeda dan bervariasi sesuai kemampuan pendapatan setiap keluarga sendiri.
Menurut Teery Page dan Jib Thomas mengatakan bahwa “socio economic status, persons position in any given group society or culture, as determined by wealth occuption and social class”, artinya status sosial ekonomi merupakan posisi atau kedudukan seseorang pada kelompok sosial yang diberikan atau yang ada sebagaimana dibatasi oleh kekayaan, tempat tinggal, pendidikan dan tingkat sosial lainnya.10
Dengan demikian status sosial yang dimiliki keluarga atau seseorang merupakan suatu identitas yang sangat besar pengaruhnya dalam masyarakat. Dengan status itu pula terkadang menyangkut derajat seseorang atau keluarga. Namun dapat juga sebaliknya, dengan status yang dimiliki tersebut akan dapat menurunkan derajat seseorang. Itulah pandangan dunia materialistis.
Dari realitas itulah dapat dipahami bahwa betapa pentingnya syari’at Islam yang memberikan pedoman, tuntunan dan menunjukkan jalan hidup dan kehidupan kearah kemaslahatan, terhindar dari kemelaratan (kemadhorotan). Ada pun yang dimaksud kemaslahatan adalah segala sesuatu yang menjadi hajat hidup, dibutuhkan dan menjadi kepentingan yang berguna dan mendatangkan kebaikan bagi seseorang manusia.11
Ajaran Islam menginginkan dan menjamin terwujudnya kemaslahatan dalam kehidupan manusia. Dalam arti bahwa ajaran Islam menghendaki agar menusia menjalani dan menikmati suatu kehidupan yang sejatera dan bahagia terhindar dari derita dan nista baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Ekonomi berperan sebagai upaya dalam membebaskan manusia dari cengkrama kemelaratan. Dengan ekonomi yang cukup atau bahkan tinggi, seseorang akan dapat hidup sejahtera dan tenang, sehingga orang yang jiwanya tenang akan berpeluang secara baik untuk meraih kehidupan akherat yang lebih baik pula. Hal tersebut ditandai adanya orang yang tenang dapat melakukan ibadah dengan tenang dan dari hartanya pula seseorang melakukan amal jariyah, dimana orang mengharapkan pahala dari Allah untuk kebahagiaannya kelak di yaumul qiyamah (sebagaimana kewajiban seorang hamba yang beriman dan bertaqwa kepad Tuhan).
Jadi jelas bahwa sosial ekonomi keluarga dari suatu masyarakat sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan kesejahteraan dari anggota keluarga itu sendiri serta masyarakat lingkungan.
Masalah yang berhubungan dengan ekonomi keluarga yang tidak kalah penting adalah masalah kesejahteraan kelurga. Apakah yang disebut dengan keluarga sejahtera atau bahagia ? karena ukuran kebahagiaan seseorang tidaklah sama (relatif) meskipun demikian dapatlah ditinjau dari kebutuhan pokok manusia yang mendatangkan kebahagiaan atau kesejahteraan tersebut.
Sebagaimana Firman Allah : (Al-Qhasas : 77)

وا بتغ فيما اتك الله الدارالا خرة ولا تنس نصيبك من الد نيا……..

Artinya : “Cariah kehidupan kaherat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu dan kamu tidak boleh melupakan kehidupan dunia”.12

Adapun yang dinamakam sejahtera, aman, tentram dan bahagia ialah apabila keluarga itu dapat terpenuhi semua kebutuhan-kebutuhannya.13 Sedangkan kebutuhan-kebutuhan pokok manusia yang mendatangkan kesejahteraan ada 2 hal, yaitu :
    1. Kebutuhan jasmani yang meliputi : makanan, pakaian, perumahan, kesehatan dan tata laksana rumah tangga.
    2. Kebutuhan rohani yang meliputi : rasa aman, ketentraman, rasa puas, rasa harga diri, rasa tanggungjawab, dihormati, disayangi dan lain-lain.14
Dalam Islam juga mengarahkan manusia untuk berkehidupan yang berkualitas dan bermutu, baik barang, pekerjaan, kondisi badan yang berkualitas akan dapat membuahkkan hasil yang maksimal, dari Tuhan yang menjadi harapan seseorang.
Kehidupan yang demikian tentunya berpangkal dari keselamatan yang berkembang menjadi kesejahteraan, kecukupan, kemudahan dan kenyamanan yang bermuara pada kebahagiaan.
3. Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga
Proses terjadinya pelapisan sosial atau penggolongan status sosial dalam masyarakat terjadi dengan sendirinya atau sengaja disusun untuk mengajar sesuatu tujuan bersama. Penggolongan ststus sosial ekonomi keluarga antara satu dengan yang lain berbeda dimana dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu tinggi, menengah dan rendah.15
Dengan adanya tingkat sosial ekonomi keluarga tersebut maka sangat berpengaruh terhadap gaya hidup tingkah laku mental seseorang dalam masyarakat (tempat tinggalnya). Perbedaan itu akan tampak pada pendidikan, cara hidup keluarga, jenis pekerjaan, tempat tinggal/ rumah dan jenis barang yang dimiliki setiap keluarga baik bagi orang tua maupun anaknya.
Anak yang berasal dari keluarga yagn tingkat sosial ekonomi tinggi secara otomatis tidak mengalami hambatan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Dengan terpenuhinya kebutuhan seseorang dapat bertambah semangat dan bergairah untuk hidup dalam usahnya untuk memperoleh prestasi yang baik dan berkualitas sebagaimana yang dicita-citakan, sebab alat atau sarana untuk mendapatkan kebutuhan tersebut telah terfalitisasi.
Sebaliknya seorang anak dari keluarga yang sosial ekonominya sedang atau menengah sudah barang tentu pemenuhan kebutuhannya tidak dapat terfasilitasi sebagaimana mereka yang berasal dari keluarga ekonomi atas. Ekonomi sedang atau pas-pasan biasanya masing-masing anggota keluarga dibatasi agar dapat melangsungkan kebutuhan dengan kemampuan yang ada, disini diperlukan perencanaan yang baik dengan pelaksanaan dan kontrol yang tetap.
Adapun anak yang sangat memperhatikan dan perlu mendapatkan perhatian adalah anak-anak sosial ekonominya rendah, dimana segala kebutuhan serba terbatas dan kekurangan bahkan anak di tuntut untuk membantu bekerja orang tuannya atau bekerja untuk biaya sekolahnya dan kebutuhan hidupnya.
Adapun perbedaan tingkat sosial ekonomi kelurga di masyarakat, maka standar kehidupan setiap keluarga tidak sama karena standar kehidupan setiap keluarga merupakan suatu tingkatan hidup yang telah dipilih oleh keluarga dan pada tingkatan inilah keluarga berusaha menempatkan dirinya dan standar kehidupan menentukan batasan-batasan yang diakui seseorang dalam usahanya mencapai tujuan hidup.
Standart kehidupan (patokan tentang ukuran terhadap sesuatu) yang dipandang layak sesuai ukuran yang ditetapkan (pribadi, masyarakat, bangsa, negara dan dunia). Jika stndart kehidupan itu akan tercapai, maka orang akan emrasa puas, begitu pula sebaliknya bila yang telah ditetapkan dan dicita-citakan tidak tercapai akan mengalami ketidakpuasan dan kekecewaan. Dari kegagalan yang dialami akan mengakibatkan suatu rasa ketidak senangan dan ketidak tengangan jiwa. Bahkan dapat mendorong seseorang untuk bertindak nekat kearah yang negatif merugikan diri sendiri dan orang lain atau merusakkan, meresahkan masyarakat.
Pencapaian standar kehidupan perlu dilakukan dengan cara yang dapat diterima oleh orang lain atau kelompok, sesuai dengan nilai-nilai/ norma yang berlaku di masyarakat. Dalam mencapai standar kehidupan untuk memenuhi kebutuhan setiap keluarga harus sesuai dengan kemampuan. Sebab dalam kenyataan keadaan ekonomi keluarga atau masyarakat dan standar kehidupannya tidak sama, ada yang tergolong tinggi/ kaya serba kemewahan, ada yang menengah/ sedang atau cukup dan rendah/ miskin.
Dalam relaita kehidupan bahwa besar kecilnya penghasilan mempunyai hubungan erat dengan standar kehidupan dan tingktan sosial ekonomi serta besar kecilnya penghasilan dapat menentukan terhadap tercapai tidaknya kebutuhan dan keinginan anggota keluarga.
4. Faktor yang memperngaruhi sosial ekonomi keluarga
a). Faktor-faktor ekonomi
– Kemiskinan
– Pengangguran
– Tidak adanya tempat tinggal
– Terlalu banyak penghuni rumah dan tidak ada cara untuk istirahat16
Sebagai pelaku ekonomu, rumah tangga keluarga berfungsi sebagai pemakai barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya.
b). Adapun dalam rumah tangga keluarga dipengaruhi oleh 2 faktor (yaitu intern dan ekstern).
1). Faktor intern, adalah faktor faktor yang mempengaruhi kegiatan konsumsi (memakai benda/ jasa untuk memenuhi kebutuhan) rumah tangga yang berasal dari rumah tangga itu sendiri.
– Sikap : kebiasan hidup hemat
– Kepribadian : keprbadian seseorang berbeda dengan kepribadian orang lain
– Motivasi : dorongan dalam memenuhi kebutuhan berbeda-beda
2). Faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi kegiatan konsumsi (memakai barang/ jasa untuk memenuhi kebutuhan) rumah tangga yang berasal dari luar rumah tangga itu sendiri.
– Kebudayaan : kebudayaan sesuatu suku bangsa
– Kelas sosial : berpengaruh terhadap kebiasaan
– Keluarga : pertalian keluarga yang erat akan berpengaruh terhadap penditribusian pendapatan17
5. Unsur yang mendukung dan mengahambat sosial ekonomi keluarga
Upaya dalam mewujudkan cita-cita harus ada unsur dan faktor yang mendukung sehingga akan tercapai dengan baik dan memuaskan. Namun untuk mengejar, meningkatkan sesuatu pasti ada tantangan atau kendala yang menghambat akan keberhasilannya.


a). Unsur yang mendukung sosial ekonomi keluarga
Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa : “Unsur-unsur yang ada dalam ekonomi keluarga adalah penghasilan, pengeluaran dan cara mengatur ekonomi keluarga”.18 Penghasilan keluarga merupakan sumber untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain.
(1). Wiraswasta sebagai pedagang, pengusaha
(2). Bekerja di Industri/ pabrik sebagai pegawai, pegawai negeri, pengawai swasta atau buruh.
(3). Penghasilan dari tanah atau sawah, kebun atau rumah atau tempat tinggal.
Menurut pendapat seorang ahli bahwa yang dimaksud dengan penghasilan adalah gaji, hasil pertanian pekerjaan dari anggota keluarga.19
Jadi penghasilan merupakan sumber pemasukan baik yang berupa uang, barang-barang dan kepuasan yang dapat dipakai oleh keluarga untuk memnuhi kebutuhan dan keinginannya.
b). Unsur yang menghambat sosial ekonomi keluarga
Dalam hal ini penulis meninjau dari empat masalah, yaitu :
(1). Sumber Penghasilan
Penghasilan keluarga dapat diperoleh dari beberapa sumber untuk memenuhi kebutuhan keluarga, diantaranya sumber penghasilan tetap sebagai imbalan jasa dari pekerjaan tatap dan sumber penghasilan tambahan yang merupakan hasil usaha sampingan.
(2). Besarnya Penghasilan
Dalam hal ini yang dimaksud adalah besarnya pemasukan uang, barang-barang atau harta kekayaan yang dapat diketahui oleh seluruh anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam suatu teori bahwa unsur-unsur dan faktor-faktor yangmempengaruhi sosial ekonomi keluarga adalah sumber penghasilan, besarnya penghasilan, besarnya atau jumlah anggota keluarga dan penggunaan penghasilan keluarga, baik penghasilan tetap maupun penghasilan sampingan/ tambahan yang erat hubungannya dengan pekerjaan. Sumber-sumber tersebut tidak sama pada tiap-tiap keluarga sehingga dalam masyarakat dikenal dengan adanya pegawai negeri, pegawai swasta, pegawai pabrik atau buruh pabrik, pegawai bangunan (buruh bangunan) dan lain sebagainya. Dari masing-masing pekerjaan mempunyai hasil atau gaji/ upah yang berbeda dengan atauran yang telah ditetapkan atau disepakati. Sehingga besarnya penghasilan dari setiap keluarga juga berbeda dan sangat mempengaruhi dari setiap keluarga juga berbeda dan sangat mempengaruhi seberapa banyak kebutuhan keluarga dapat terpenuhi.
(3). Besarnya jumlah anggota keluarga
Jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungjawab sebuah keluarga atau rumah tangga untuk dipenuhi kebutuhan hidupnya. Makin banyak jumlah anggota keluarganya berarti makin banyak pula kebutuhan yang harus dicapai atau nilai kebutuhan bertambah besar.
(4). Penggunaan Penghasilan Keluarga
Untuk mengatur ekonomi keluarga agar kebutuhan dari masing-masing keluarga terpenuhi, maka harus teliti memilah dan memilih antara kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder serta pelengkap yang lain. Semuanya itu harus disesuaikan dengan kemampuan atau penghasilan keluarga yang diperoleh, sehingga tidak terperosok dalam pemborosan, kesombongan atau bahkan sebaliknya kesengsaraan atau mendorong berlakunya penyimpangan dari hukum atau peraturan dan bertindak cukup curang serta jahat.
Yang dimaksud kebutuhan primer atau produk bagi manusia adalah pangan, sandang, seks dan kesehatan. Maka apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi akan terganggu atau hilangnya keseimbangan fisik jasmaninya. Menurut pandangan dan juga diakui bahwa semua mahluk akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya, sebab kalau tidak terpenuhi seseorang akan merasa cemas dan gelisah. Maka Allah SWT menjamin bahwa tidak ada suatu mahluk hidupnya yang tidak ada rizkinya.
Seperti dalam Firman Allah SWT : (Hud : 6)

وما من دابة فى الارض الا على الله رز قها

Artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melata (mahlik bernyawa dimuka bumi) yang tidak disediakan Allah rizkinya”.20

1M. Rusli Karim, Berbagai Aspek Ekonomi Islam, PT. Tiara Wacana Yogya Bekerjasama Dengan P3EL UII Yogyakarta, 1993, hal. 3.

2Tagyudin An-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif (Perspektif Islam), Risalah Gusti, 1996, hal. 16.

3Napirin, Pengantar Ilmu Ekonomi, (Mikro dan Makra), Edisi 1, Penerbit BPFE, Yogyakarta, Juni 2000, hal. 1.
4Michail P. Todaro, Pembangunan Ekonomi Di DuniaKetiga, Erlangga, Jakarta, 1994, hal. 12.

5Ahmad Muhammad al-Sissal, et.al, Sistem, Prinsip dan Tujuan Ekonomi Islam, CV. Pustaka Setia, 1999, Bandung, An Nizamul Iqtisadi Fil Islam Mabadiuhu Wahdafuhu, Kairo, hal. 9.

6Ibid, hal. 10-11.
7Darmansyah M., Ilmu Sosial Dasar, Usaha Nasional, Surabaya Indonesia, 1986, hal. 79.
8 M. Munandar Solaeman MS. Ilmu Sosial Dasar, (Teori dan Konsep Ilmu Sosial), Edisi Revisi, Bandung Eresco, 1995. hal. 55.

9 Khairudin H.SS. Sosiologi Keluarga, Liberti, Yogyakarta, 1997. hal. 47.

10Teery Page et.al, International Of Education, (New York Kogen Page), 1997, hal. 316.
11Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial, dari Sosial Lingkungan Asuransi Sehingga Ukhuwah, Bandung, Mizan, Juni 1994, hal. 148.
12Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001, hal. 37.

13Sutari Imam Barnadip, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP, Yogyakarta, 1995, hal.126.

14Ibid, hal. 127.
15R. Hadi Sadikin, Tata Laksana Rumah Tangga, Jakarta FIP, IKIP, 1975, hal. 20.
16Mustofa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga Sekolah dan Masyarakat, Jilid I, Terj. Zakiyah Daradjat, Bulan Bintang, Jakarta, 1997, hal. 73-74.

17Drs. Rosjdi Rasjidin, et.al., Ekonomi SMU Kelas I Kurikulum 1994, Yudistira, 1994, hal. 26-27.
18Biro Pengembangan Pendidikan Ekonomi IKIP Sunathadarma, Dunia Ekonomi, Kta (Yogyakarta : Kanisius, 1973).

19Hadi Sadikin, Op.Cit, hal. 40.
20Departemen RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/ Pentafsir Al Qur’an, hal. 327.

Makalah pendidikan karakter


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Akhmed (2011:03) memaparkan “ dewasa ini telah terjadi pergeseran nilai etika dan budaya di berbagai kalangan, khususnya para remaja. Pergeseran itu antara lain , maraknya pergaulan bebas dan ancaman pornigrafi, kekerasan, dan kerusuhan yang berujung pada tindak anarkis, hingga adanya hegemoni suatu kelompok”. Pergeseran nilai etika dan budaya itulah yang menjadikan generasi sekarang kehilangan jati dirinya. Berulang kali kita menyaksikan di berbagai media massa baik surat kabar maupun televisi tentang siswa gagal UNAS kemudian bunuh diri atau pengrusakan terhadap sekolah karena sekolahnya gagal meluluskan siswanya. Selain itu, masih banyak lagi bentuk-bentuk tindakan anarkis, mulai dari tawuran antar pelajar, mahasiswa bahkan kisruh-kisruh di elit DPR saat sidang paripurna.
Permasalahan diatas adalah sebagian kecil dari berbagia masalah yang disebabkan oleh menurunnya nilai etika, moral dan budaya dalam bangsa Indonesia di era globalisasi ini yaitu pornografi, kasus narkoba, plagiarisme dalam ujian, dan sejenisnya. “Era globalisasi telah membentuk manusia serba instan dan berpikir praktis untuk mencapai tujuan. Ketidakmampuan mengikuti jaman akan menjadi manusia mudah frustasi dan melakukan tindakan yang menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai termasuk dalam pendidikan”. (Kamilun, 2010:18).
Disinilah tantangan semakin besar di era globalisasi ini. Pendidikan diharapkan mampu membendung berbagai kemungkinan-kemungkinan negatif yang secara perlahan akan menghilangkan budaya bangsa ini. Salah satunya penguatan pendidikan karakter yang menekankan pada dimensi etis spiritual dalam proses pembentukan pribadi. Hasan (2011:03) mengungkapkan, “ untuk membentengi generasi muda agar terhindar dari pergeseran nilai etika dan budaya, butuh pembangunan karakter”.
Akhir-akhir ini pendidikan karakter begitu gencar menjadi sorotan berbagai kalangan negeri ini. Bahkan Mohammad Noh, selaku Mendikans secar tegas mengatakan, pendidikan karakter sangat penting untuk bangsa. Pendidikan karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian, tanggung jawab, kebenaran, keindahan, kebaikan, dan keimanan. Sehingga dengan demikian, pendidikan berbasis karakter bisa kita jadikan langkah preventif untuk mencegah berbagai kemungkinan-kemungkinan negatif di era globalisasi.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas makalah ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut.
Berdasarkan batasan masalah di atas maka dapat di rumuskan pemasalahan sebagai berikut :
1.      apa yang dimaksud dengan globalisasi ?
2.      Apa dampak negatif dari globalisasi ?
3.      Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap kebudayaan nasional ?
4.   Mengapa diperlukan pendidikan berbasis karakter di era globalisasi?
5.   Apakah pengertian dari pendidikan karakter?
6.   Apakah tujuan dari pendidikan karakter?
7.      Bagaimana penerapan pendidikan berbasis karakter di era globalisasi?
8.      Apa manfaat pendidikan berbasis karakter di era globalisasi?


1.3  Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain adalah untuk mengetahui, memahami, serta membahas tentang:
1.      Pengertian globalisasi atau hakikat globalisasi
2.      Dampak negatif dari Globalisasi
3.      Pengaruh globalisasi terhadap kebudayaan Nasional.
4.   Perlunya pendidikan berbasis karakter di era globalisasi.
5.   Pengertian pendidikan karakter.
6.   Tujuan pendidikan karakter
7.   Peranan pendidikan berbasis karakter.
6.   Manfaat pendidikan berbasis karakter.

BAB II
PEMBAHASAN
Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
  • Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
  • Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
  • Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
  • Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
  • Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara

2.2       Dampak Globalisasi

Seperti yang kita tahu bahwa globalisasi adalah proses komplek yang digerakan oleh berbagai pengaruh sehingga mengubah kehidupan sehari-hari terutama dinegara berkembang, dan pada saat yang sama ia menciptakan system- system dan kekuatan trans nasional baru.
Globalisasi juga menimbulkan berbagai dampak yang merupakan permasalahan global. Dampak dari globalisasi tersebut itu adalah:


2.1  Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Beberapa fungsi pendidikan (diadopsi dari Academic Duty, karya Donald Kennedy, 1999) adalah to teach, to mentor,to discover,to publish,to reach beyond the wall,to change,to tell the truth,to inform,dan character building.
Sementara itu, konsep pendidikan karakter dapat dijabarkan sebagai Character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within (David Elkind & Freddy Sweet, Ph.D., 2004, dalam arief rachman, 2011).
Orang sering terjebak, pendidikan karakter itu diterjemahkan hanya sebagai sopan santun. Padahal lebih dari itu. Yang mau dibangun adalah karakter-budaya yang menumbuhkan kepenasaranan intelektual (intellectual curiosity) sebagai modal untuk mengembangkan kreativitas dan daya inovatif yang dijiwai dengan nilai kejujuran dan dibingkai dengan kesopanan dan kesantunan.
Pendidikan karakter adalah sebuah system yang menanamkan nilai – nilai karakter pada peserta didik,yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan  nilai- nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan  kamil.
Menurut Akhmad Sudrajat kita mesti mengerti makna dari karakter  itu sendiri terlebih dahulu . Pengertian Karakter menurut Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personlitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak. Sementara itu yang disebut dengan berkarakter ialah berkepribadian , berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak.

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli
  1. Pendapat Tadzkirotun Musfiroh (2008).
Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Makna karakter itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang yang tidak jujur , kejam, rakus dan berperilaku jelek. Sebaliknya orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia. Seseorang dianggap memiliki karakter mulia apabila ia mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang potensi dirinya  adalah terpupuknya sikap terpuji, seperti penuh reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kratif –inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab  dll. Dengan demikian karakter atau karakteristik  adalah realisasi perkembangan positif dalam hal intelektual, emosional, social, etika dan perilaku .
  1. David Elkind dan  Freddy sweet, Ph.D. (2004)
Pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik,Guru membantu membentuk watak peserta didik agar senantisa positif .
  1. T. ramli (2003) menyatakan bahwasannya pendidikan karakter memiliki esensi yang sama dengan pendidikan moral atau akhlak. Dalam konteks pendidikan di Indonesia pendidikan karakter ialah pendidikan nilai yakni penanaman nilai-nilai luhur yang di gali dari budaya bangsa Indonesia. pijakan utama yang harus dijadikan sebagai landasan dalam menerapkan pendidikan karakter ialah nilai moral universal yang dapat digali dari agama. Ada beberapa nilai karakter dasar yang disepakati oleh para pakar untuk diajarkan kepada peserta didik, yakni rasa cinta kepada Tuhan yang maha esa dan ciptaannya, tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, mampu bekerjsama, percaya diri, kreatif, mau bekerja keras, pantang menyerah, adil serta memiliki sifat kepimpinan, baik, rendah hati, toleransi, cinta damai dan cinta persatuan. Guru harus berusaha menumbuhkan nilai nilai tersebut melalui spirit keteladanan  yang nyata, bukan sekedar pengejaran dan wacana.

2.2  Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Pendidikan karakter bertujuan untuk:
  1. Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkna diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas impuls natural sosial yang diterimanya, yang padagilirannya semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pembentukan diri secara terus-menerus.Tujuan jangka panjang ini merupakan pendekatan dialektis yang semakin mendekatkan dengan kenyataa yang idea, melalui proses refleksi dan interaksi secara terus menerus antara idealisme, pilihan sarana, dan hasil langsung yang dapat dievaluasi secara objektif.

  1. Pendidikan Karakter juga bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan. Melalui pendidikan karakter, diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuaannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

  1. Pendidikan karakter, pada tingkatan institusi, mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah masyarakat sekitar. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

2.1.1   Perspektif Pendidikan Berbasis Karakter
Pendidikan karakter sebagai sebuah program kurikuler dapat didekati dari perspektif programatik maupun teoritis.
     a.  Perspektif programatik 
1. Habit versus Reasoning. Beberapa perspektif menekankan kepada pengembangan penalaran dan refleksi moral seseorang, perspektif lainnya menekankan kepada mempraktikan perilaku kebajikan hingga menjadi kebiasaan (habitual). Adapula yang melihat keduanya sebagai hal penting.
2. ”Hard” versus ”Soft” virtues. Pertanyaan-pertanyaan: apakah disiplin diri, kesetiaan (loyalitas) sungguh-sungguh penting? atau, apakah kepedulian, pengorbanan, persahabatan sangat penting? Kecenderungannya untuk menjawab YA untuk kedua pertanyaan tersebut.
3. Focus on the individual versus on the environment or community. Apakah karakter yang tersimpan pada individu ataukah karakter yang tersimpan dalam norma-norma dan pola-pola kelompok atau konteks? Jawabnya, memilih kedua-duanya (Schaps & Williams, 1999 dalam Williams, 2000: 35).
    b. Perspektif Teoritis 
1. Community of care (Watson)
2. constructivist approach to sociomoral development(DeVries)
3. child development perspectives (Berkowitz)
4. eclectic  approach (Lickona)
5. traditional perspective (Ryan) (the National Commission on Character Education dalam Williams, 2000: 36).

2.4    Perlunya Pendidikan Berbasis Karakter di Era Globalisasi
Bebagai fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah. Penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan, tetapi buta pada keadilan. Aan (2010), mengatakan, “Sepertinya karakter masyarakat Indonesiayang santun dalam berperilaku, musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong .royong, telah berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan.”
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini yang berada di era global, bangsa Indonesia harus memiliki visi prospektif dan  pandangan hidup yang kuat agar tidak didekte, dan diombang-ambingkan oleh kekuatan  asing.          Berbagai bentuk pelanggaran masih terus terjadi. Tindakan kekerasan dan pelanggaran HAM, perilaku amoral dan runtuhnya budi pekerti luhur,  semau gue dan tidak disiplin, anarkhisme dan ketidaksabaran, korupsi, ketidakjujuran dan budaya nerabas, rentannya kemandirian dan jati diri bangsa, terus menghiasai kehidupan bangsa kita. (Sardiman AM, 2010: 148).
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam sebuah diskusi di Maarief Institute menuturkan bahwa permasalahan yang hadir di masyarakat seperti korupsi, kekerasan,tindak anarkis dan lainlainnya menjadi latar belakang mengapa pendidikan karakter perlu dilaksanakan. Pada dasarnya, pendidikan karakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan yang tercantum pada Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini menyebutkan, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. (Harian Sindo, 2010).
Ada beberapa alasan yang mendasar bahwa pendidikan berbasis karakter diperlukan seperti yang terjadi di USA pada saat memasuki abad 21, di antaranya:
a.      There is a clear and urgent need.
b.      Transmitting values is and always has been the work of civilisation.
c.       The school’s role as moral educator becomes more vital at a time when millions of children get little moral teaching from their parents and when value-centered influence such as church or temple are also absent from their lives.
d.      thereis a common ethical ground even in our values-conflicted society.
e.       Democracies have a special need for moral education.
f.        There is no such thing as value-free education.
g.      Moral questions are among the great question facing both the individuals and human race.
h.      There is a broad-based, growing support for values education in the schools.
Dari situasi tersebut bahwa pendidikan nilai/moral memang sangat diperlukan atas dasar argumen; adanya kebutuhan nyata dan mendesak; proses tranmisi nilai sebagai proses peradaban; peranan sekolah sebagai pendidik moral yang vital pada saat melemahnya pendidikan nilai dalam masyarakat; tetap adanya kode etik dalam masyarakat yang sarat konflik nilai; kebutuhan demokrasi akan pendidikan moral; kenyataan yang sesungguhnya bahwa tidak ada pendidikan yang bebas nilai; persoalan moral sebagai salah satu persoalan dalam kehidupan, dan adanya landasan yan g kuat  dan dukungan luas terhadap pendidikan moral di sekolah. Smua argumen tersebut tampaknya masih relevan untuk menjadi cerminan kebutuhan akan pendidikan nilai/moral di Indonesia pada saat ini.
Proses demokasi yang semakin meluas dan tantangan globalisasi yang semakin kuat dan beragam disatu pihak dan dunia persekolahan dan pendidikan tinggi yang lebih mementingkan penguasaan dimensi pengetahuan dan mengabaikan pendidikan nilai/moral saat ini, merupakan alasan yang kuat bagi Indonesia untuk membangkitkan komitmen dan melakukan gerakan nasional pendidikan karakter.Lebih jauh dari itu adalah Indonesia dengan masyarakatnya yang ber-Bhinneka tunggal ika dan dengan falsafah negaranya Pancasila yang sarat dengan nilai dan moral, merupakan alasan filosofik-ideologis, dan sosial-kultural tentang pentingnya pendidikan karakter untuk dibangun dan dilaksanakan secara nasional dan berkelanjutan.(Draft:2010).

2.3    Penerapan Pendidikan Berbasis Karater di Era Globbalisasi
“Pendidikan karakter dan penanaman nilai-nilai nasionalisme di sekolah-sekolah atau di lembaga-lembaga pendidikan lain tidak berjalan efektif karena siswa tidak menemukan sosok teladan”.(Kompas, 3 Mei 2011:01). Akibatnya, siswa berpandangan, pendidikan karakter di era globalisasi ini hanya sekedar wacana dan tidak perlu di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan mereka merasa di bohongi dengan hanya mendengarkan materi tentang karakter baik, kejujuran, dan patriotisme, tetapi gagal menemukan sosok teladan dalam kehidupan nyata. Mereka hanya meyakini paham baru yang disebabkan adanya globalisasi di segala bidang yang  justru bertolak belakang dengan nilai-nilai moral pancasila di negara Indonesia.
Penerapan pendidikan karakter sebenarnya dapat dilakukan pada berbagai jenjang, mulai dari SD (bahkan TK) hingga perguruan tinggi. Berbagai macam cara dapat dilakukan. Sekolah (termasuk perguruan tinggi) harus bisa melakukan upaya-upaya pembentukan karakter siswa melalui kegiatan pembelajaran formal mereka di lembaga tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan pembentukan karakter pada matapelajaran tertentu. “Pendidikan karakter bersifat pengajaran nilai, maka tidak perlu ada penambahan bahan kajian. Dengan demikian, pelaksanaan implementasi pendidikan karakter tidak perlu menambah alokasi waktu yang tersedia pada tiap-tiap mata pelajaran, tetapi cukup melakukan pembahasan pada metode pengajaran atau cara penyajian bahan pengajaran”(Novi, 2010:12). Selain itu, juga dicarikan tokoh-tokoh teladan dalam proses pembelajaran. Misalnya di kelas-kelas sebuah lembaga pendidikan, selain menjelaskan materi-materi tentang pendidikan karakter guru juga mencarikan tokoh-tokoh yang bisa dijadikan panutan dalam menghadapi kehidupan di era globalisasi.
Dari contoh-contoh yang telah disebutkan di atas, ada hal penting yang harus diperhatikan dalam penerapan pendidikan karakter. Hal tersebut yaitu pemberian contoh oleh guru. Pepatah mengatakan bahwa guru adalah seseorang yang digugu dan ditiru. Berdasarkan pepatah tersebut, guru haruslah senantiasa memberikan contoh terbaik kepada siswanya tentang perilaku-perilaku terpuji pembentuk karakter. Guru tidak boleh hanya memberikan perintah kepada siswanya untuk berperilaku baik, tetapi ia juga harus memberikan contoh kepada siswanya berupa perilaku yang baik pula. Dengan demikian, ada kerjasama antara guru dan siswa dalam membentuk karakter siswa.

2.4  Manfaat Pendidikan Berbasis Karakter di Era Globalisasi
Dari beberapa uraian diatas, manfaat pendidikan karakter di era globalisasi sangat banyak dan besar bagi kehidupan bangsa dan negara karena perannya yang sangat fital dalam pembentukan karakter warga negara berdasarkan nilai-nilai etika dan budaya bangsa. Berikut ini adalah berbagai manfaat dari pendidikan karakter.
1)      Pendidikan karakter menjadikan individu yang maju, mandiri, dan kokoh dalam menggenggam prinsip.
2)      Pendidikan karakter akan menjadi benteng dalam memerangi berbagai perilaku berbahaya dan gelap.
3)      Pendidikan karakter sebagai Promoting Prosocial Attitudes/Values.
4)      Pendidikan karakter sebagai Encouraging Intellectual/Academic Values.
5)      Pendidikan karakter sebagai Mempromosikan Pengembangan Pribadi Holistik. Meliputi, Karir kejuruan perencanaan / dan komitmen, pengembangan kepemimpinan, pertumbuhan rohani mentoring dan peran pemodelan, adventure questing dan pembangunan iman.
6)      Pendidikan karakter sebagai Encouraging Civic ResponsibilityMendorong Tanggung Jawab Civic. Meliputi, layanan & kesukarelaan, politik tindakan, keberlanjutan dan civic keterlibatan.

3.        Penutup
3.1    Kesimpulan
1)        Pendidikan karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian, tanggung jawab, kebenaran, keindahan, kebaikan, dan keimanan dan pendidikan berbasis karakter akan menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang sadar diri sebagai makhluk, manusia, warga negara, dan pria atau wanita.
2)        Pendidikan karakter sangat diperlukan atas dasar argumen; adanya kebutuhan nyata dan mendesak; proses tranmisi nilai sebagai proses peradaban; peranan sekolah sebagai pendidik moral yang vital pada saat melemahnya pendidikan nilai dalam masyarakat; tetap adanya kode etik dalam masyarakat yang sarat konflik nilai; kebutuhan demokrasi akan pendidikan moral; kenyataan yang sesungguhnya bahwa tidak ada pendidikan yang bebas nilai; persoalan moral sebagai salah satu persoalan dalam kehidupan, dan adanya landasan yan g kuat  dan dukungan luas terhadap pendidikan moral di sekolah.
3)        Penerapan pendidikan karakter di sebuah lembaga pendidikan harus ada integrasi dengan materi mata pelajaran dan aplikasi terhadap materi-materi pendidikan karakter. Selain itu, guru juga mencarikan tokoh-tokoh untuk dijadikan teladan di era globalisasi.
4)          Manfaat pendidikan karakter banyak dan sangat besar dalam pembentukan karakter warga negara yang sesuai dengan nilai-nilai etika dan budaya bangsa.

3.2    Saran
1)      Bagi Masyarakat
Dalam upaya untuk mendukung dan mensukseskan pendidikan karakter perlu adanya teladan yang baik bagi murid-murid di sekolah. Sehingga mereka akan mudah untuk mengaplikasikan materi-materi pendidikan karakter.


2)      Bagi Pemerintah
Dalam upaya untuk mendukung dan mensukseskan pendidikan karakter, selain adanya teladan yang baik, juga memberikan perhatian dan memberikan sarana-sarana yang menunjang bagi kesuksesan pendidikan karakter di era globalisasi.
3)      Bagi Sekolah dan Guru
Pihak guru dan sekolah diharapkan mampu mengontrol perkembangan perilaku murid-muridnya. Sehingga sedapat mungkin kesalahan-kesalahan yang ada pada murid bisa segera ditangani.




















DAFTAR RUJUKAN
Mulyono, M. 2010. Pendidikan Karakter Mewujudkan Jati Diri Bangsa. Makalah disajikan dalam Acara cangkru’an Ilmiah, Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maliki, Malang. 17 Oktober.

Susilowati, N.E. 2010. Implementasi Pendidikan Karakter Pada Bidang Studi Bahasa Indonesia. Makalah tidak diterbitkan. Malang: PPs UM.

Kompas. 3 Mei 2010. Penanaman Nasionalisme Tanpa keteladanan, hlm.1.

Media Umat. 18 April 2010. Pendidikan Berbasis Karakter,hlm.11.

Surya Pos. 20 Maret 2011. Penanaman Nilai-nilai Budaya dan Etika di Era Globalisasi, hlm.15.
Edi, S. 2010. Penerapan Pendidikan Berbasis Karakter,(Online), (http://abstrak.digilib.upi.edu/Direktori/TESIS/PENDIDIKAN_TEKNOLOGI_DAN_KEJURUAN/0705199___TRISNO_YUWONO/T_PTK_0705199_Chapter1.pdf), diakses 17 Maret 2011.
Ihsan, A. 2010. 9 Pilar Pendidikan Holistik Berbasis Karakter,(Online), (http://sdncbu11.wordpress.com/2010/08/03/9-pilar-pendidikan-holistik-berbasis karakter/), diakses 07 oktober 2013
Wahyuni, I. 2011. Pendidikan, (Online), dalam Wikipedia(http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan), diakses 20 oktober 2013.
Wahyuni, I. 2011. Karakter, (Online), dalam Wikipedia(http://id.wikipedia.org/wiki/Karakter), diakses 20 oktober 2013.